Metode Analisa
Penetapan-penetapan berikut ini dilakukan untuk menentukanmutu air
permukaan :
- Analisa
temperature
Cara metode ini
digunakan untuk menetapkan suhu air dan air limbah dengan termometer air raksa.
Air raksa dalam termometer akan memuai
atau menyusut sesuai dengan panas air yang diperiksa, sehingga suhu air dapat
dibaca pada skala thermometer (°C).
Peralatan
Termometer air raksa yang mempunyai
skala sampai 110°C.
Penetapan contoh uji air permukaan.
a. Termometer langsung
dicelupkan ke dalam contoh uji dan biarkan 2 menit sampai dengan 5 menit sampai thermometer menunjukan
nilai stabil.
b. Catat pembacaan
skala thermometer tanpa mengangkat lebih dahulu thermometer dari air.
Penetapan contoh uji air pada kedalaman tertentu.
a.
Pasang thermometer pada alat
pengambil contoh uji.
b.
Masukan alat pengambil contoh
uji ke dalam air pada kedalaman tertentu untuk mengambil contoh uji.
c.
Tarik alat pengambil contoh
uji sampai ke permukaan.
d. Catat skala yang ditunjukan thermometer sebelum contoh air dikeluarkan dari
alat pengambil contoh
Referensi
Badan Standardisasi Nasional. 2005. SNI
06-6989.23. ICS No. 13.060.01
- Analisa
Total Dissolved Solid (TDS)
Untuk
mengukur kandungan padatan terlarut, sampel yang sudah dihomogenkan disaring
menggunakan kertas saring fiber glas. Filtratnya kemudian diuapkan hingga
kering pada oven dengan suhu T 180oC dalam cawan porselin yang
diketahui bobotnya. Pertambahan bobot cawan merupakan bobot padatan terlarut
dalam sampel.
Peralatan
a. Analytical Balance
b. Oven Pemanas (104+2oC)
c. Desikator
d. Filtering Apparatus
e. Glass
Fibre Filter
f. Hot plate
g. Cawan porselen
h. Gelas beaker
i.
Pinset
Prosedur
Analisa
1. Persiapan
1.
Bilas
cawan porselen dengan akuades sampai bersih, kemudian dipanaskan di oven sampai
kering yang sebelumnya diberi label/nomor terlebih dulu.
2.
Keluarkan
cawan dari oven dan masukkan ke dalam desikator sampai dingin lalu ditimbang
(bobot kosong).
2. Penyaringan
sampel
1.
Siapkan
peralatan penyaring yang betul-betul bersih, lalu pasangkan kertas saring pada
peralatan penyaring tersebut.
2.
Saring
20 mL air akuades, buang saringannya (hanya untuk membilas saja).
3.
Saring
100 mL sampel, pindahkan ke botol plastik kemudian diberi nomor/label.
4.
Untuk
sampel air laut volume yang disaring adalah 50 mL.
Keterangan: Jika TDS > 500 mg/L, analisa
dikerjakan dengan cara Gravimetri
Jika
TDS < 500 mg/L, analisa dikerjakan dengan alat Conductivitimeter
3. Analisis Sample
1.
Letakkan
cawan di atas hot plate dan biarkan sebentar untuk menghindari kontaminasi.
2.
Tuangkan
sampel yang sudah disaring ke dalam cawan sedikit demi sedikit. Untuk sampel
air laut harus dilakukan secara hati-hati karena kalau menuangkan sampel
terlalu banyak akan menyebabkan letupan dari air garam sehingga mengakibatkan
berkurangnya hasil penimbangan.
3.
Atur
suhu hot plate sehingga menjadi 180oC.
4.
Lanjutkan
penambahan sampel ke dalam cawan sampai habis dan menguap, tapi tidak boleh
dibiarkan kering.
5.
Pindahkan
cawan ke dalam oven (105oC) selama satu jam sampai mengering sempurna.
6.
Pindahkan
cawan ke dalam desikator sampai dingin,
lalu ditimbang.
Perhitungan
TDS (mg/L) = bobot
kering (mg) – bobot kosong (mg) x
1000
volume sample (mL)
Referensi
Standard Methods
for Examination of Water and Wastewater, American Public Health Association
(APHA) 21st ed. (2005), Method 2540 C (Total Dissolved Solids Dried
at 180oC)
3. Analisa
Total Suspended Solid (TSS)
Sampel yang telah dikocok dengan merata disaring
melalui filter serat gelas standar yang telah ditimbang sebelumnya lalu residu
yang tersisa dikeringkan pada suhu 103o-105oC hingga
bobot tetap. Kenaikan bobot dari filter tersebut merepresentasikan Total
Suspended Solid atau Total Padatan Tersuspensi.
Peralatan
a.
Analytical Balance
b.
Oven Pemanas (104±2oC)
c.
Desikator
d.
Cawan aluminium
e.
Filtering Apparatus
f.
Glass Fibre Filter
g.
Gelas beaker
h.
Gelas ukur
i.
Pinset
Prosedur Analisa
1.
Cuci semua peralatan yang akan dipakai untuk
menyaring dengan menggunakan akuades sampai bersih.
2.
Siapkan cawan alumunium masing-masing diberi nomor
atau label untuk tiap sampel yang akan diukur, kemudian masukkan ke masing
masing cawan tersebut fiber glass filter.
3.
Cawan alumunium kosong harus dipanaskan selama 24
jam untuk kemudian didinginkan di dalam desikator lalu ditimbang untuk
menetapkan bobot cawan kosongnya.
4.
Siapkan peralatan untuk menyaring (filtering
apparatus) kemudian letakkan fiber glass filter di atasnya lalu dibilas dengan
20 mL akuades
5.
Kocok sampel yang akan dianalisa kemudian tuangkan
sebanyak 150 mL dengan menggunakan gelas ukur.
6.
Bilas dinding saringan dengan menggunakan akuades
sampai tidak ada kotoran yang menempel pada dinding tersebut.
7.
Untuk sampel air laut harus dibilas dengan akuades
sebanyak 250 mL.
8.
Setelah sampel disaring, ambil fiber glass filter
dari atas alat penyaring kemudian tempatkan ke dalam cawan yang telah diberi
tanda atau label, lalu dikeringkan di dalam oven pada suhu 105oC
selama satu malam.
9.
Setelah keesokan harinya ambil fiber glass filter
dan cawan alumuniumnya kemudian masukkan ke dalam desikator hingga dingin lalu
ditimbang hingga bobot tetap.
Perhitungan
TSS (mg/L) =[bobot
cawan + sampel kering (mg)]– [bobot cawan kosong (mg)] x 1000
Volume sample (mL)
Referensi
Standard Method for Examination of Water and
Wastewater, American Public Health Association (APHA) 21st. Edition (2005), Method 2540 D (Total
Suspended Solid Dried at 103-105oC)
4. Analisa
Derajat Keasaman Menggunakan Alat pH Meter
Pada suhu tertentu sifat asam atau basa air
ditunjukan oleh nilai pH-nya atau aktivitas ion hidrogennya. Alkalinitas maupun
keasaman adalah kemampuan untuk menetralkan asam atau basa air. Sedangkan
kapasitas penyanggan dinyatakan dalam molal per liter. pH adalah –log[H+]
yang ditetapkan dengan metode pengukuran secra potentiometri dengan menggunakan
pH meter.
Peralatan dan Bahan
Peralatan
a.
pH meter dengan perlengkapannya;
b.
Piala gelas 250mL;
c.
Pengaduk gelas atau magnetic;
d.
Kertas tissue;
e.
Timbangan analitik; dan
f.
Termometer.
Bahan
Larutan penyangga
4, 7 dan 10 yang siap pakai dan tersedia dipasaran, atau dapat juga dibuat
dengan cara sebagi berikut:
- Larutan penyangga, pH 4,004 (25°C)
Timbang 10,12g
kalium hydrogen ptalat, KHC8H4O4, larutkan
dalam 1000mL air suling.
- Larutan penyangga, pH 6,863 (25°C).
Timbang 3,387g
kalium dihidrogen fosfat, KH2PO4 dan 3,533g dinatrium
hydrogen fosfat, Na2HPO4, larutan dalam 1000mL air
suling.
- Larutan penyangga, pH 10,014 (25°C)
Timbang 2,092
natrium hirogen karbonat, NaHCO3 dan 2,640g natrium karbonat, Na2CO3,
larutkan dalam 1000mL air suling.
Prosedur
Persiapan pengujian
a.
Lakukan kalibrasi alat pH-meter dengan larutan penyangga sesuai instruksi kerja
alat setiap kali akan melakukan pengukuran.
b. Untuk contoh uji yang mempunyai suhu tinggi,
kondisikan contoh uji sampai suhu kamar.
Prosedur
Analisa
a.
Keringkan dengan kertas tissue selanjutnya bilas
elektroda dengan air suling.
b.
Bilas elektroda dengan larutan
uji.
c.
Celupkan elektroda ke dalam
contoh uji sampai pH meter menunjukan pembacaan yang tetap.
d.
Catat hasil pembacaan skala
atau angka pada tampilan dari pH meter.
Referensi
Badan Standardisasi Nasional. 2004. Air
dan air limbah-Bagian 11: Cara uji derajat keasaman dengan alat pH
meter. SNI 06-6989.11. ICS No 13.060.50
5. Analisa
5 Day Biological Oxygen Demand (BOD5)
Metode ini digunakan untuk menentukan jumlah
oksigen yang diperlukan mikroba untuk degradasikan senyawaan organik secara biokimia dalam air
dan juga termasuk oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi senyawaan anorganik
seperti sulfide dan fero.
Umumnya perairan
yang telah tercemar atau air limbah mengandung senyawa organik yang memerlukan
oksigen melebihi kelarutan oksigen dalam air. Sehingga dalam hal ini diperlukan
pengenceran air, sehingga terjadi kesimbangan antara bahan jumlah organic yang
dioksidasi dengan dengan jumlah oksigen yang diperlukan d dalam contoh air yang
akan di ukur nilai BOD5nya
Dalam pertumbuhan
bakteri diperlukan hara seperti nitrogen, fosfor dan logam-logam maka di dalam
air pengencer ditambahkan unsur tersebut dan untuk menjaga pH tetap konstan
(6,5 – 7,5) maka ditambahkan larutan penyangga.
Peralatan dan Bahan
Peralatan
1. Botol BOD
kapasitas 250 - 300mL
2. Inkubator suhu 20
± 1°C
3. Buret 50mL
4. Pipet 25, 50mL
5. Erlemeyer 250mL
6. Analitycal balance
Bahan
1.
Larutan penyangga (buffer) fosfat
Larutan 8,5g KH2PO4;
21,75g K2HPO4; 33,4g Na2HPO4.7H2O
dan 1,7g NH4Cl ke dalam 500mL air suling kemudian encerkan menjadi
1L. Nilai pH larutan ini harus 7,2.
2.
Larutan Magnesium Sulfat
Larutkan 22,5g
MgSO4.7H2O kedalam air suling lalu encerkan sampai 1L.
3.
Larutan kalsium klorida.
Larutakan 27,5g
CaCl2 kedalam air suling lalu
encerkan sampai 1L.
4.
Larutan feri klorida
Larutkan 0,25g FeCl3.6H2O
kedalam air suling lalu encerkan sampai 1L.
5. Larutan asam atau basa 1N: untuk
menetralkan contoh air.
6. Larutan Natrium Sulfit
Larutkan 1,575g Na2SO3
kedalam 1 L air suling. Larutan ini dibuat pada saat
akan dipergunakan.
Prosedur
Pembuatan air pengencer.
Tambahkan
masing-masing 1mL larutan penyangga fosfat, MgSO4, CaCl2
dan FeCl3 kedalam 1 liter air suling yang akan dipergunakan sebagai
pengencer.
Perlakuan
awal contoh air
1) Contoh air yang
mengandung alkalinitas disebabkan oleh soda dan juga mengandung keasaman maka
netralisasi contoh dengan asam sulfat atau larutan natrium hidoksida encer
sehingga pH air contoh menjadi 6.5 - 7.5.
2) Jika contoh
mengandung reidu klorin, maka tambahkan Na2SO3 untuk
menghilangkannya
Pengukuran
1. Lakukan teknik
pengenceran ke dalam botol BOD
-
Untuk air limbah yang belum diolah maka
pengencerannya berkisar antara 0,0 – 1,0%
-
Untuk air limbah yang telah mengalami pengendapan
pengenceran berkisar 1,0 – 5,0%
-
Untuk air limbah yang sudah mengalami pengolahan
secarabiologis pengencerannya : 5 – 25%
2.
Inkubasi contoh kedalam incubator
selama 5 hari pada suhu 20°C.
3. Segera ukur DO
mula-mula (initial) dari air contoh yang diencerkan (biladilakukan pengenceran)
atau contoh yang tidak diencerkan.
Perhitungan
BOD mgO2/L = ((XOo - XO5) – (BO0 – BO5))
x (1-P)
P
XO0= DO dari contoh air 0 hari (saat itu
juga)
XO5= DO dari contoh air 5 hari.
BO0= DO dari blanko 0 hari (saat itu juga)
BO5= DO dari blanko 5 hari
P= fraksi
pengenceran.
Referensi
Standard Methods
for Examination of Water and Wastewater, American Public Health Association
(APHA) 21st ed. (2005), Method 5210B
7. Analisis
Chemycal Oxygen Demand (COD) Dengan Refluks Tertutup Secara Spektrofotometer
Metode ini
digunakan untuk penentuan kebutuhan oksigen kimiawi KOK atau COD dalam air dan
air limbah secara refluk terbuka dengan kisaran kadar KOK atara 50mg/L O2
sampai dengan 900 mg/L O2. Metode ini tidak
berlaku bagi contoh uji air yang mengandung ion klorida lebih besar dari
2000mg/L
Zat organic dioksidasi dengan campuan mendidih asam sulfat dan kalium
dikromat yang diketahui normalitasnya dalam suatu refluk selama 2 jam.
Kelebiahn kalium dikromat yang tereduksi, dititrasi dengan larutan ferro
ammonium sulfat (FAS).
Peralatan dan Bahan
Peralatan
g.
Peralatan refluks, yang terdiri dari labu
erlenmeyer, pendingin Liebig 30cm;
h.
hot plate atau yang setara;
i.
labu ukur 100mL dan 1000mL
j.
buret 25mL atau 50mL;
k.
pipet volume 5mL; 10mL; 15mL dan 50mL;
l.
erlenmeyer 250mL (labu refluk); dan
m.
neraca analitik.
Bahan
a. Standar kalium dikromat 0.2500N
Larutkan 12.259g K2Cr2O7
yang telah di keringkan pada 150°C selama 2 jam kedalam air suling dan encerkan
sampai 1L.
b. Larutan perak asam
Sulfat.
Larutkan 10.19 g Ag2SO4 kedalam 1L H2SO4 pekat,
secara perlahan sampai Ag2SO4 larut sempurna (1- 2 hari)
c.
Larutan indikator feroin.
Larutkan 1.485g
1,10-phenanthroline monohydrate dan 695mg FeSO4.7H2O
kedalam air suling sampai 100mL.
d.
Larutan penitar standar fero
ammonium sulfate (FAS) 0.25M.
Larutkan 98g Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O
kedalam air suling. Tambahkan 20mL H2SO4
pekat dan dingin.
e.
Cristal atau serbuk asam
sulfamat
Hanya digunakan jika ada gangguan nitrit, 10mg asam sulfamat untuk 1mg
nitrit.
f.
Larutan baku kalium hidrogen
ptalat (KHP)
Larutkan 425mg KHP (yang telah di haluskan dan dikeringkan pada 110°C),
dalam air suling dan tepatkan sampai 1000mL. Larutan ini mempunyai kadar KOK
500mg/L O2. Bila disimpan dalam refrigerator dapat digunakan sampai
1 minggu selama tidak ada pertumbuhan mikroba.
g.
Serbuk merkuri sulfat, HgSO4
h.
Batu didih
Prosedur
Standardisasi
FAS
-
Pipet 25.00mL larutan standard
K2Cr2O7 0.25N kedalam erlemeyer dan tambah air
sampai 100mL.
-
Titrasi dengan larutan penitar
FAS dengan mengunakan 0.10 sampai 0.15mL (2-3 tetes) indicator feroin.
Prosedur Analisa
-
Pipet 10mL larutan contoh kedalam erlemeyer 250mL
-
Tambahkan 1g HgSO4
dan perlahan-lahan 5.0mL larutan perak asam sulfat, diaduk sampai HgSO4
larut dan beberapa batu didih.
-
Tambahkan 10mg asam sulfamat
jika konsentrasi NO2-
2mg/L atau lebih.
-
Tambahkan 25.00 mL K2Cr2O7
0.25N dan aduk.
-
Pasang erlemeyer dengan pendingin reflux dan
nyalakan air pendingin. Tambahkan 25mL larutan perak
asam sulfat sambil erlemeyer di goyang. Setelah selesai penambahan aduk dengan kuat.
Hitupkan alat pemanas.
-
Tutup ujung atas kondensor
yang terbuka, kemudian destruksikan selama 2 jam.
-
Setelah selesai dinginkan dan
bilas dengan air suling. Dinginkan sampai suhu kamar dan tirasi dengan FAS
dengan mengunakan 2-3 tetes indicator feroin.
-
Lakukan blanko dengan cara
yang sama.
Perhitungan
Normalitas
Larutan FAS
N Larutan FAS= V olume larutan K2Cr2O7
(mL) x 0.2500 N
Volume
FAS yang diperlukan (mL)
Kadar COD
COD sbg mgO2/L
= (A - B) x N x 8000
ml sampel
Keterangan:
A= mL FAS diperlukan pada blanko
B= mL FAS diperlukan pada sample
N= Normalitas FAS
8000= mg ekivalen oksigen x 1000ml/L
Persen temu balik (%Recovery)
Pembuatan spike matrix:
a.
pipet 25mL contoh uji dan
tambahkan 25mL larutan baku KHP.
b.
Lakukan pengukuran COD seperti
ponit 8.2.1 sampai dengan 8.2.7
% Recovery = (D - E) x 100%
F
Dengan pengertian:
D adalah kadar uji yang di spike, mg/L
E adalah kadar contoh uji
yang tidak di spike, mg/L
F adalah kadar standar yang
ditambahkan (target value), mg/L.
Dimana
F= ( y ) ( z) / v
y adalah volume larutan baku yang ditambahkan,
mL;
z adalah
kadar larutan baku, mg/L
V adalah volume akhir contoh uji yang spike, mL
Referensi
1.
Standard Methods for Examination of Water and
Wastewater, American Public Health Association (APHA) 21st ed.
(2005), Method 5220 B (open reflux method).
2.
Badan Standardisasi Nasional. 2004. SNI 06-6989.15.
ICS No. 13.060.50
8. Metode
Analisa Dissolved Solid (DO)
Kandungan oksigen
terlarut (DO) dalam perairan alami maupun air limbah sanga tergantung pada
sifat fisik, kimia dan aktivitas biokimia dalam air tersebut. Analisis DO
merupakan parameter kunci yang dapat menentukan tingkat pencemaran perairan
maupunjenis pengolah air limbah yang diperlukan.
Metode Winkler
dengan modifikasi azide cocok untuk menganalisis DO dari contoh- contoh air
limbah, air permukaan terutama jika contoh air mengandung N-NO2
lebih besar dari 0.05 mg/L atau ion fero tidak lebih dari 1 mg/L.
Pada metode ini
contoh air dalam botol Winkler ditambahkan larutan MnSO4 (mangan II)
diikuti dengan penambahan larutan alkali kuat, oksigen terlarut yang terdapat
dalam contoh air akan segera mengoksidasi mangan II menjadi mangan yang
bervalensi lebih tinggi. Adanya ion Iodida dalam larutan yang bersuasana asam
akan menyebabkan mangan bervalensi tiga berubah kembali menjadi mangan
bervalensi dua bersamaan dengan perubahan ini akan terbentuk Iod bebas yang
jumlahnya setara dengan jumlah oksigen terlarut yang terdapat dalam contoh air.
Iod ini kemudian dititrasi dengan larutan tiosulfat dengan indicator amilum.
Peralatan dan Bahan
Peralatan
a. Botol Winkler
b.
Pipet volume 5mL; 10mL; dan
50mL
c. Buret
d. pipet ukur 5mL
e. erlenmeyer 125mL
f. gelas piala 400mL;
dan
g. labu ukur 1000mL
Bahan
1) Larutan MnSO4
Larutkan 120g MnSO4.4H2O
atau 100g MnSO4.2H2O atau 91g MnSO4.H2O
kedalam air suling, saring dan kemudian encerkan menjadi 250mL dengan air
suling.
2) Larutan Alkali –
Iodida - Azide
Larutkan 125g NaOH
dan 37.5g KI ke dalam air suling, encerkan menjadi 250mL. Larutkan 10g NaN3
ke dalam 40mL air suling. Campurkan larutan kedua larutan tersebut.
3) Asam sulfat pekat.
4) Larutan Kanji.
Campurkan 1.25g
kanji ke dalam sedikit air suling dingin sehingga membentuk suspensi. Tuang
larutan ini kedalam 200mL air suling yang mendidih sambil diaduk. Encerkan
menjadi 250 mL dan didihkan beberapa menit, diamkan semalam kemudian ambil
bagian yang jernih. Awetkan larutkan ini dengan 0.3125g asam salisilat atau
dengan menambahkan beberapa tetes toluene.
5) Larutan Standar
Tiosulfat 0.025N
Didihkan air
suling beberapa menit, kemudian dinginkan. Larutkan 3.1025g Na2S2O3.5H2O
kedalam air suling tersebut dan encerkan menjadi 500mL. Awetkan larutan ini
dengan menambahkan 2.5mL chloroform atau 0.2 g NaOH atau 2g Borak.
6) Larutan Standar
Dikromat
Timbang 0.613g K2Cr2O7 (yang telah dikeringkan pada 150°C selama 2
jam) dan larutkan ke dalam air suling, tepatkan sampai 500mL.
Prosedur
Persiapan
pengujian
1) Sediakan botol
winkler.
2) Masukan contoh uji
ke dalam botol winkler sampai meluap, hati-hati jangan sampai terjadi gelembung
udara, kemudian tutup rapat jangan sampai ada gelembung udara didalam botolnya.
3)
Lakukan pengujian contoh uji
segera setelah contoh uji di ambil.
Prosedur
Penetapan larutan Tio Sulfat dengan kalium dikromat
1) Larutakan 4.904 g
K2Cr2O7 (pa) yang telah di keringkan pada
150°C selama 2 jam kedalam sair suling dan larutkan samapi 1000mL untuk
mendapatkan larutan 0.1000N. Simpan di botol tertutup.
2) Pipet 10mL K2Cr2O7
0.1000N kedam erlenmeyer tambahkan
80mL air suling tambahkan 1mL H2SO4 pekat dan 1g KI, aduk dan simpan ditempat
gelap selama 6 menit.
3) Titar Iod yang
dibebaskan dengan menggunakan larutan Tio sulfat samapi warna kuning muda.
4) Tambahkan larutan
indicator amilum/kanji lanjutkan titrasi sampai warna biru tepat hilang.
5)
Hitung normalitas larutan Na2S2O3
dengan rumus sebagai berikut:
N
Na2S2O3 = N2 x
V2
V1
Dengan
pengertian:
V1 adalah mL Na2S2O3
V2 adalah mL K2Cr2O7
yang digunakan
N2 adalah Normalitas K2Cr2O7
Prosedur penetapan kadar oksigen terlarut (DO)
1) Ambil contoh yang
sudah disiapakan.
2) Tambahkan 1mL MNSO4
dan 1mL alkali iodide azida dengan ujung pipet tepat di atas permukaan larutan.
3)
Tutup segera dan homogenkan
hingga terbentuk gumpalan sempurna.
4)
Biarkan gumpalan menegndap 5
menit sampai dengan 10 menit.
5)
Tambahkan 1mL H2SO4
pekat, tutup dan homogenklan hingga endapan larut sempurna.
6)
Pipet 50mL, kemudian masukan
ke dalam erlenmeyer 150mL.
7) Titrasi dengan Na2S2O3
dengan indicator amilum/kanji sampai warna biru tepat hilang.
Perhitungan
Oksigen Terlarut (mg O2/L)
= V x N x 8000 x F
50
Dengan pengertian :
V adalah mL Na2S2O3;
N adalah
normalitas Na2S2O3;
F adalah
factor (volume botol dibagi volume botol dikurangi volume pereaksi MnSO4
dan alkali iodide azida).
Referensi
Badan Standardisasi National. 2004. Air dan air limbah bagian 14: Cara uji
oksigen terlarut secara yodometri (modifikasi azida).
9. Analisa
NH3-N (Amonia)
Metode fenat ini digunakan untuk menentukan kadar
amonia pada sample air dan air limbah. Amonia bereaksi dengan hipoklorit dan
fenol yang dikatalisis oleh natrium nitroprusida membentuk senyawa biru
indofenol. Absorbansi indofenol ini sebanding dengan konsentrasi ammonia yang
diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 640 nm dengan menggunakan
kuvet 1 cm.
Peralatan dan Bahan
Peralatan
10. Spectrofotometer
dengan panjang gelombang 640 nm.
11. Pipet ukur 10 mL,
25 mL
12. Pipet volum 1 mL
13. Labu ukur 100 mL,
1000 mL
14. Gelas ukur 100 mL
15. Erlenmeyer 50 mL
16. Analitycal balance
Bahan
1. Larutan Fenol (C6H5OH)
Campurkan 11,1 mL
fenol cair ( ≥ 89%) dengan etil alkohol 95% sampai volume 100 mL
(Catatan : larutan
ini harus disiapkan setiap minggu)
2. Latutan Natrium
Nitroprusida (C5FeN6Na2O) 0,5%
Larutkan 0,5 gram
natrium nitroprusida dengan akuades dan encerkan sampai volume 100 mL. Simpan
pada botol amber dan dapat disimpan selama 1 bulan.
3. Larutan Natrium
Hipoklorit (NaClO) 5%
4.
Larutan Alkalin Sitrat (C6H5Na3O7)
Larutkan 200 gram
trinatrium sitrat dan 10 gram NaOH dengan akuades, kemudian encerkan sampai
volume 1000 mL.
5.
Larutan Pengoksidasi
Larutkan 100 ml
larutan alkalin sitrat dengan 25 ml natrium hipoklorit.
6.
Larutan Standar Induk Amonia (1000 mg N/L)
Larutkan 3,819
gram amonium klorida (NH4Cl) (yang telah dikeringkan pada suhu 100oC)
dengan akuades, kemudian encerkan sampai dengan volume 1000 mL
7.
Larutan Standar Baku Amonia (10 mg N/L)
Larutan 10 ml
standar induk amonia dengan akuades, kemudian encerkan sampai volume 1000 mL.
Prosedur
Kalibrasi
Buat larutan
standar kerja amonia masing-masing dari larutan standar baku 10 mg N/L menjadi volume 100 ml dengan konsentrasi sbb. :
|
No
|
Konsentrasi Larutan Standar Kerja(mg/L)
|
Volume Penambahan Larutan Standar Induk (ml)
|
|
1
|
Blanko
|
0,0
|
|
2
|
0,1
|
1,0
|
|
3
|
0,2
|
2,0
|
|
4
|
0,3
|
3,0
|
|
5
|
0,5
|
5,0
|
Lakukan analisa
absorbansi sesuai dengan prosedur 8.2.
Buat kurva kalibrasi antara konsentrasi larutan standar dengan hasil
pembacaan absorbansinya.
Yakinkan
bahwa koefesien korelasi (R2)
dari kurva kalibrasi adalah ≥ 0,995 Catat nilai
R2 , slope dan intersep dalam kertas kerja.
Prosedur
Analisa
1. Pipet 25 mL sample, kemudian masukkan ke dalam erlenmeyer 50 mL
2. Tambahkan 1 mL larutan fenol, kemudian homogenkan.
3. Tambahkan 1 mL larutan natrium nitroprusida, kemudian homogenkan
4. Tambahkan 2,5 mL larutan pengoksidasi, kemudian homogenkan
5. Tutup Erlenmeyer dengan paraffin film.
6. Diamkan selama t 1 jam, untuk pembentukan warna.
7. Kemudian masukkan sample ke dalam kuvet, dan ukur absorbansi pada
panjang gelombang 640 nm.
Perhitungan
Buat kurva standar
(kurva kalibrasi) antara konsentrasi larutan standar dengan hasil pembacaan
absorbansi nya, sehingga diperoleh persamaan garis regresi linier.
Y = A + BX,
Dimana , Y=
absorbansi
X = konsentrasi
A = Intersep
B = Slope
Konsentrasi amonia
(mg N/L) = Absorbansi – Intersep ,
dikalikan faktor pengenceran jika ada
Slope
Referensi
Standard Methods
for Examination of Water and Wastewater, American Public Health Association
(APHA) 21st ed. (2005), Method 4500-NH3 F (Phenate
Method)