Senin, 23 April 2012

Metode Analisa Kualitas Air


Metode Analisa


     Penetapan-penetapan berikut ini dilakukan untuk menentukanmutu air permukaan :

  1. Analisa temperature

Cara metode ini digunakan untuk menetapkan suhu air dan air limbah dengan termometer air raksa. Air raksa dalam termometer  akan memuai atau menyusut sesuai dengan panas air yang diperiksa, sehingga suhu air dapat dibaca pada skala thermometer (°C).
   Peralatan

         Termometer air raksa yang mempunyai skala sampai 110°C.

    Penetapan contoh uji air permukaan.
a.       Termometer langsung dicelupkan ke dalam contoh uji dan biarkan 2 menit sampai  dengan 5 menit sampai thermometer menunjukan nilai stabil.
b.      Catat pembacaan skala thermometer tanpa mengangkat lebih dahulu thermometer dari air.
                                    
   Penetapan contoh uji air pada kedalaman tertentu.
a.       Pasang thermometer pada alat pengambil contoh uji.
b.      Masukan alat pengambil contoh uji ke dalam air pada kedalaman tertentu untuk mengambil contoh uji.
c.       Tarik alat pengambil contoh uji sampai ke permukaan.
d.      Catat skala yang ditunjukan thermometer sebelum contoh air dikeluarkan dari alat pengambil contoh

          Referensi

 Badan Standardisasi Nasional. 2005. SNI 06-6989.23. ICS No. 13.060.01

  1. Analisa Total Dissolved Solid (TDS)

      Untuk mengukur kandungan padatan terlarut, sampel yang sudah dihomogenkan disaring menggunakan kertas saring fiber glas. Filtratnya kemudian diuapkan hingga kering pada oven dengan suhu T 180oC dalam cawan porselin yang diketahui bobotnya. Pertambahan bobot cawan merupakan bobot padatan terlarut dalam sampel.

        Peralatan

a.       Analytical Balance
b.      Oven Pemanas (104+2oC)
c.       Desikator
d.      Filtering Apparatus
e.         Glass Fibre Filter
f.       Hot plate
g.      Cawan porselen
h.      Gelas beaker
i.        Pinset

Prosedur Analisa

1.     Persiapan

1.         Bilas cawan porselen dengan akuades sampai bersih, kemudian dipanaskan di oven sampai kering yang sebelumnya diberi label/nomor terlebih dulu.
2.         Keluarkan cawan dari oven dan masukkan ke dalam desikator sampai dingin lalu ditimbang (bobot kosong).


2.   Penyaringan  sampel

1.         Siapkan peralatan penyaring yang betul-betul bersih, lalu pasangkan kertas saring pada peralatan penyaring tersebut.
2.         Saring 20 mL air akuades, buang saringannya (hanya untuk membilas saja).
3.         Saring 100 mL sampel, pindahkan ke botol plastik kemudian diberi nomor/label.
4.         Untuk sampel air laut volume yang disaring adalah 50 mL.

Keterangan: Jika TDS > 500 mg/L, analisa dikerjakan dengan cara Gravimetri
  Jika TDS < 500 mg/L, analisa dikerjakan dengan alat Conductivitimeter

3.    Analisis Sample

1.         Letakkan cawan di atas hot plate dan biarkan sebentar untuk menghindari kontaminasi.
2.         Tuangkan sampel yang sudah disaring ke dalam cawan sedikit demi sedikit. Untuk sampel air laut harus dilakukan secara hati-hati karena kalau menuangkan sampel terlalu banyak akan menyebabkan letupan dari air garam sehingga mengakibatkan berkurangnya hasil penimbangan.
3.         Atur suhu hot plate sehingga menjadi 180oC.
4.         Lanjutkan penambahan sampel ke dalam cawan sampai habis dan menguap, tapi tidak boleh dibiarkan kering.
5.         Pindahkan cawan ke dalam oven (105oC) selama satu jam sampai mengering sempurna.
6.         Pindahkan cawan ke dalam desikator  sampai dingin, lalu ditimbang.


          Perhitungan


        TDS (mg/L) = bobot kering (mg) – bobot  kosong (mg) x 1000
volume sample (mL)

         Referensi


Standard Methods for Examination of Water and Wastewater, American Public Health Association (APHA) 21st ed. (2005), Method 2540 C (Total Dissolved Solids Dried at 180oC)

3.      Analisa Total Suspended Solid (TSS)

      Sampel yang telah dikocok dengan merata disaring melalui filter serat gelas standar yang telah ditimbang sebelumnya lalu residu yang tersisa dikeringkan pada suhu 103o-105oC hingga bobot tetap. Kenaikan bobot dari filter tersebut merepresentasikan Total Suspended Solid atau Total Padatan Tersuspensi.
    
       Peralatan

a.       Analytical Balance
b.      Oven Pemanas (104±2oC)
c.       Desikator
d.      Cawan aluminium
e.       Filtering Apparatus
f.       Glass Fibre Filter
g.      Gelas beaker
h.      Gelas ukur
i.        Pinset

     
Prosedur Analisa

1.      Cuci semua peralatan yang akan dipakai untuk menyaring dengan menggunakan akuades sampai bersih.
2.      Siapkan cawan alumunium masing-masing diberi nomor atau label untuk tiap sampel yang akan diukur, kemudian masukkan ke masing masing cawan tersebut fiber glass filter.
3.      Cawan alumunium kosong harus dipanaskan selama 24 jam untuk kemudian didinginkan di dalam desikator lalu ditimbang untuk menetapkan bobot cawan kosongnya.
4.      Siapkan peralatan untuk menyaring (filtering apparatus) kemudian letakkan fiber glass filter di atasnya lalu dibilas dengan 20 mL akuades
5.      Kocok sampel yang akan dianalisa kemudian tuangkan sebanyak 150 mL dengan menggunakan gelas ukur.
6.      Bilas dinding saringan dengan menggunakan akuades sampai tidak ada kotoran yang menempel pada dinding tersebut.
7.      Untuk sampel air laut harus dibilas dengan akuades sebanyak 250 mL.
8.      Setelah sampel disaring, ambil fiber glass filter dari atas alat penyaring kemudian tempatkan ke dalam cawan yang telah diberi tanda atau label, lalu dikeringkan di dalam oven pada suhu 105oC selama satu malam.
9.      Setelah keesokan harinya ambil fiber glass filter dan cawan alumuniumnya kemudian masukkan ke dalam desikator hingga dingin lalu ditimbang hingga bobot tetap.


Perhitungan

TSS (mg/L) =[bobot cawan + sampel kering (mg)]– [bobot cawan kosong (mg)] x 1000
Volume sample (mL)


Referensi

Standard Method for Examination of Water and Wastewater, American Public Health Association (APHA) 21st.   Edition (2005), Method 2540 D (Total Suspended Solid Dried at 103-105oC)

4.      Analisa Derajat Keasaman Menggunakan Alat pH Meter

      Pada suhu tertentu sifat asam atau basa air ditunjukan oleh nilai pH-nya atau aktivitas ion hidrogennya. Alkalinitas maupun keasaman adalah kemampuan untuk menetralkan asam atau basa air. Sedangkan kapasitas penyanggan dinyatakan dalam molal per liter. pH adalah –log[H+] yang ditetapkan dengan metode pengukuran secra potentiometri dengan menggunakan pH meter.

         Peralatan dan  Bahan
         Peralatan

a.            pH meter dengan perlengkapannya;
b.            Piala gelas 250mL;
c.             Pengaduk gelas atau magnetic;
d.            Kertas tissue;
e.             Timbangan analitik; dan
f.             Termometer.

Bahan
Larutan penyangga 4, 7 dan 10 yang siap pakai dan tersedia dipasaran, atau dapat juga dibuat dengan cara sebagi berikut:

  1. Larutan penyangga, pH 4,004 (25°C)
Timbang 10,12g kalium hydrogen ptalat, KHC8H4O4, larutkan dalam 1000mL air suling.
  1. Larutan penyangga, pH 6,863  (25°C).
Timbang 3,387g kalium dihidrogen fosfat, KH2PO4 dan 3,533g dinatrium hydrogen fosfat, Na2HPO4, larutan dalam 1000mL air suling.
  1. Larutan penyangga, pH 10,014 (25°C)
Timbang 2,092 natrium hirogen karbonat, NaHCO3 dan 2,640g natrium karbonat, Na2CO3, larutkan dalam 1000mL air suling.



       Prosedur

       Persiapan pengujian

a. Lakukan kalibrasi alat pH-meter dengan larutan penyangga sesuai instruksi kerja alat setiap kali akan melakukan pengukuran.
b.  Untuk contoh uji yang mempunyai suhu tinggi, kondisikan contoh uji sampai suhu kamar.


        Prosedur Analisa
a.                   Keringkan dengan kertas tissue selanjutnya bilas elektroda dengan air suling.
b.                  Bilas elektroda dengan larutan uji.
c.                   Celupkan elektroda ke dalam contoh uji sampai pH meter menunjukan pembacaan yang tetap.
d.                  Catat hasil pembacaan skala atau angka pada tampilan dari pH meter.


        Referensi

Badan Standardisasi Nasional. 2004. Air  dan air limbah-Bagian 11: Cara uji derajat keasaman dengan alat pH meter. SNI 06-6989.11. ICS No  13.060.50

5.      Analisa 5 Day Biological Oxygen Demand (BOD5)

      Metode ini digunakan untuk menentukan jumlah oksigen yang diperlukan mikroba untuk degradasikan  senyawaan organik secara biokimia dalam air dan juga termasuk oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi senyawaan anorganik seperti sulfide dan fero.
Umumnya perairan yang telah tercemar atau air limbah mengandung senyawa organik yang memerlukan oksigen melebihi kelarutan oksigen dalam air. Sehingga dalam hal ini diperlukan pengenceran air, sehingga terjadi kesimbangan antara bahan jumlah organic yang dioksidasi dengan dengan jumlah oksigen yang diperlukan d dalam contoh air yang akan di ukur nilai BOD5nya
Dalam pertumbuhan bakteri diperlukan hara seperti nitrogen, fosfor dan logam-logam maka di dalam air pengencer ditambahkan unsur tersebut dan untuk menjaga pH tetap konstan (6,5 – 7,5) maka ditambahkan larutan penyangga.

         Peralatan dan  Bahan
   Peralatan

1.      Botol BOD kapasitas 250 -  300mL
2.      Inkubator suhu 20 ± 1°C
3.      Buret  50mL
4.      Pipet 25, 50mL
5.      Erlemeyer 250mL
6.      Analitycal balance

   Bahan

1.         Larutan penyangga (buffer) fosfat
Larutan 8,5g KH2PO4; 21,75g K2HPO4; 33,4g Na2HPO4.7H2O dan 1,7g NH4Cl ke dalam 500mL air suling kemudian encerkan menjadi 1L. Nilai pH larutan ini harus 7,2.

2.         Larutan Magnesium Sulfat
Larutkan 22,5g MgSO4.7H2O kedalam air suling lalu encerkan sampai 1L.

3.         Larutan kalsium klorida.
Larutakan 27,5g CaCl2  kedalam air suling lalu encerkan sampai 1L.

4.          Larutan feri klorida
        Larutkan 0,25g FeCl3.6H2O kedalam air suling lalu encerkan sampai 1L.

5.       Larutan asam atau basa 1N: untuk menetralkan contoh air.

6.     Larutan Natrium Sulfit
        Larutkan 1,575g Na2SO3 kedalam 1 L air suling. Larutan ini dibuat pada saat akan dipergunakan.


        Prosedur

Pembuatan air pengencer.
      Tambahkan masing-masing 1mL larutan penyangga fosfat, MgSO4, CaCl2 dan FeCl3 kedalam 1 liter air suling yang akan dipergunakan sebagai pengencer.

     Perlakuan awal contoh air
1)      Contoh air yang mengandung alkalinitas disebabkan oleh soda dan juga mengandung keasaman maka netralisasi contoh dengan asam sulfat atau larutan natrium hidoksida encer sehingga pH air contoh menjadi 6.5 - 7.5.
2)      Jika contoh mengandung reidu klorin, maka tambahkan Na2SO3 untuk menghilangkannya

Pengukuran

1.      Lakukan teknik pengenceran ke dalam botol BOD
-          Untuk air limbah yang belum diolah maka pengencerannya berkisar antara 0,0 – 1,0%
-          Untuk air limbah yang telah mengalami pengendapan pengenceran berkisar 1,0 – 5,0%
-          Untuk air limbah yang sudah mengalami pengolahan secarabiologis pengencerannya : 5 – 25%
2.      Inkubasi contoh kedalam incubator selama 5 hari pada suhu 20°C.

3.      Segera ukur DO mula-mula (initial) dari air contoh yang diencerkan (biladilakukan pengenceran) atau contoh yang tidak diencerkan.


         Perhitungan

BOD mgO2/L = ((XOo -  XO5) – (BO0 – BO5)) x (1-P)
                                                              P
XO0= DO dari contoh air 0 hari (saat itu juga)
XO5= DO dari contoh air 5 hari.
BO0= DO dari blanko  0 hari (saat itu juga)
BO5= DO dari blanko  5 hari
P=  fraksi pengenceran.

        Referensi

Standard Methods for Examination of Water and Wastewater, American Public Health Association (APHA) 21st ed. (2005), Method 5210B

7.      Analisis Chemycal Oxygen Demand (COD) Dengan Refluks Tertutup Secara Spektrofotometer

Metode ini digunakan untuk penentuan kebutuhan oksigen kimiawi KOK atau COD dalam air dan air limbah secara refluk terbuka dengan kisaran kadar KOK atara 50mg/L O2 sampai dengan 900 mg/L O2. Metode ini tidak berlaku bagi contoh uji air yang mengandung ion klorida lebih besar dari 2000mg/L

Zat organic dioksidasi dengan campuan mendidih asam sulfat dan kalium dikromat yang diketahui normalitasnya dalam suatu refluk selama 2 jam. Kelebiahn kalium dikromat yang tereduksi, dititrasi dengan larutan ferro ammonium sulfat (FAS).

         Peralatan dan  Bahan
         Peralatan
g.           Peralatan refluks, yang terdiri dari labu erlenmeyer, pendingin Liebig 30cm;
h.           hot plate atau yang setara;
i.             labu ukur 100mL dan 1000mL
j.             buret 25mL atau 50mL;
k.           pipet volume 5mL; 10mL; 15mL dan 50mL;
l.             erlenmeyer 250mL (labu refluk); dan
m.         neraca analitik.

    Bahan

      a.  Standar kalium dikromat 0.2500N
Larutkan 12.259g K2Cr2O7 yang telah di keringkan pada 150°C selama 2 jam kedalam air suling dan encerkan sampai 1L.

b.      Larutan perak asam Sulfat.
Larutkan 10.19 g Ag2SO4  kedalam 1L H2SO4 pekat, secara perlahan sampai Ag2SO4 larut sempurna (1- 2 hari)

c.       Larutan indikator feroin.
Larutkan 1.485g 1,10-phenanthroline monohydrate dan 695mg FeSO4.7H2O kedalam air suling sampai 100mL.

d.      Larutan penitar standar fero ammonium sulfate (FAS) 0.25M.
Larutkan 98g Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O kedalam air suling. Tambahkan 20mL H2SO4 pekat dan dingin.

e.       Cristal atau serbuk asam sulfamat
Hanya digunakan jika ada gangguan nitrit, 10mg asam sulfamat untuk 1mg nitrit.

f.       Larutan baku kalium hidrogen ptalat (KHP)
Larutkan 425mg KHP (yang telah di haluskan dan dikeringkan pada 110°C), dalam air suling dan tepatkan sampai 1000mL. Larutan ini mempunyai kadar KOK 500mg/L O2. Bila disimpan dalam refrigerator dapat digunakan sampai 1 minggu selama tidak ada pertumbuhan mikroba.

g.      Serbuk merkuri sulfat, HgSO4

h.      Batu didih

         Prosedur

   Standardisasi FAS

-          Pipet 25.00mL larutan standard K2Cr2O7 0.25N kedalam erlemeyer dan tambah air sampai 100mL.
-          Titrasi dengan larutan penitar FAS dengan mengunakan 0.10 sampai 0.15mL (2-3 tetes) indicator feroin.

Prosedur Analisa

-    Pipet  10mL larutan contoh kedalam erlemeyer 250mL

-    Tambahkan 1g HgSO4 dan perlahan-lahan 5.0mL larutan perak asam sulfat, diaduk sampai HgSO4 larut dan beberapa batu didih.

-    Tambahkan 10mg asam sulfamat jika konsentrasi NO2-  2mg/L atau lebih.

-          Tambahkan 25.00 mL K2Cr2O7 0.25N dan aduk.

-          Pasang erlemeyer dengan pendingin reflux dan nyalakan air pendingin. Tambahkan 25mL larutan perak asam sulfat sambil erlemeyer di goyang. Setelah selesai penambahan aduk dengan kuat. Hitupkan alat pemanas.
-          Tutup ujung atas kondensor yang terbuka, kemudian destruksikan selama 2 jam.
-          Setelah selesai dinginkan dan bilas dengan air suling. Dinginkan sampai suhu kamar dan tirasi dengan FAS dengan mengunakan 2-3 tetes indicator feroin.
-          Lakukan blanko dengan cara yang sama.


          Perhitungan

 Normalitas Larutan FAS

N Larutan FAS=    V olume larutan K2Cr2O7 (mL)          x 0.2500 N
                               Volume FAS yang diperlukan (mL)



Kadar COD

COD sbg mgO2/L =  (A - B) x N x 8000
                          
                                         ml sampel
Keterangan:
A= mL FAS diperlukan pada blanko
B= mL FAS diperlukan pada sample
N= Normalitas FAS
8000= mg ekivalen oksigen x 1000ml/L

Persen temu balik (%Recovery)

Pembuatan spike matrix:
a.       pipet 25mL contoh uji dan tambahkan 25mL larutan baku KHP.
b.      Lakukan pengukuran COD seperti ponit 8.2.1 sampai dengan 8.2.7

% Recovery = (D - E) x 100%
                           F




Dengan pengertian:
D         adalah kadar uji yang di spike, mg/L
E          adalah kadar contoh uji yang tidak di spike, mg/L
F          adalah kadar standar yang ditambahkan (target value), mg/L.
            Dimana
            F= ( y ) ( z) / v

            y                         adalah volume larutan baku yang ditambahkan, mL;
            z             adalah kadar larutan baku, mg/L
            V                        adalah volume akhir contoh uji yang spike, mL


        Referensi

1.      Standard Methods for Examination of Water and Wastewater, American Public Health Association (APHA) 21st ed. (2005), Method 5220 B (open reflux method).
2.      Badan Standardisasi Nasional. 2004. SNI 06-6989.15. ICS No. 13.060.50


8.      Metode Analisa Dissolved Solid (DO)

Kandungan oksigen terlarut (DO) dalam perairan alami maupun air limbah sanga tergantung pada sifat fisik, kimia dan aktivitas biokimia dalam air tersebut. Analisis DO merupakan parameter kunci yang dapat menentukan tingkat pencemaran perairan maupunjenis pengolah air limbah yang diperlukan.
Metode Winkler dengan modifikasi azide cocok untuk menganalisis DO dari contoh- contoh air limbah, air permukaan terutama jika contoh air mengandung N-NO2 lebih besar dari 0.05 mg/L atau ion fero tidak lebih dari 1 mg/L.
Pada metode ini contoh air dalam botol Winkler ditambahkan larutan MnSO4 (mangan II) diikuti dengan penambahan larutan alkali kuat, oksigen terlarut yang terdapat dalam contoh air akan segera mengoksidasi mangan II menjadi mangan yang bervalensi lebih tinggi. Adanya ion Iodida dalam larutan yang bersuasana asam akan menyebabkan mangan bervalensi tiga berubah kembali menjadi mangan bervalensi dua bersamaan dengan perubahan ini akan terbentuk Iod bebas yang jumlahnya setara dengan jumlah oksigen terlarut yang terdapat dalam contoh air. Iod ini kemudian dititrasi dengan larutan tiosulfat dengan indicator amilum.

         Peralatan dan  Bahan
   Peralatan
a.       Botol Winkler
b.      Pipet volume 5mL; 10mL; dan 50mL
c.       Buret
d.      pipet ukur 5mL
e.       erlenmeyer 125mL
f.       gelas piala 400mL; dan
g.      labu ukur 1000mL

    Bahan

1)      Larutan MnSO4
Larutkan 120g MnSO4.4H2O atau 100g MnSO4.2H2O atau 91g MnSO4.H2O kedalam air suling, saring dan kemudian encerkan menjadi 250mL dengan air suling.

2)      Larutan Alkali – Iodida -  Azide
Larutkan 125g NaOH dan 37.5g KI ke dalam air suling, encerkan menjadi 250mL. Larutkan 10g NaN3 ke dalam 40mL air suling. Campurkan larutan kedua larutan tersebut.

3)      Asam sulfat pekat.

4)      Larutan Kanji.
Campurkan 1.25g kanji ke dalam sedikit air suling dingin sehingga membentuk suspensi. Tuang larutan ini kedalam 200mL air suling yang mendidih sambil diaduk. Encerkan menjadi 250 mL dan didihkan beberapa menit, diamkan semalam kemudian ambil bagian yang jernih. Awetkan larutkan ini dengan 0.3125g asam salisilat atau dengan menambahkan beberapa tetes toluene.

5)      Larutan Standar Tiosulfat 0.025N
Didihkan air suling beberapa menit, kemudian dinginkan. Larutkan 3.1025g Na2S2O3.5H2O kedalam air suling tersebut dan encerkan menjadi 500mL. Awetkan larutan ini dengan menambahkan 2.5mL chloroform atau 0.2 g NaOH atau 2g Borak.

6)      Larutan Standar Dikromat
Timbang 0.613g K2Cr2O7  (yang telah dikeringkan pada 150°C selama 2 jam) dan larutkan ke dalam air suling, tepatkan sampai 500mL.
                    

        Prosedur

 Persiapan pengujian

1)      Sediakan botol winkler.
2)      Masukan contoh uji ke dalam botol winkler sampai meluap, hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara, kemudian tutup rapat jangan sampai ada gelembung udara didalam botolnya.
3)      Lakukan pengujian contoh uji segera setelah contoh uji di ambil.

        Prosedur Penetapan larutan Tio Sulfat dengan kalium dikromat

1)      Larutakan 4.904 g K2Cr2O7 (pa) yang telah di keringkan pada 150°C selama 2 jam kedalam sair suling dan larutkan samapi 1000mL untuk mendapatkan larutan 0.1000N. Simpan di botol tertutup.
2)      Pipet 10mL K2Cr2O7 0.1000N  kedam erlenmeyer tambahkan 80mL air suling tambahkan 1mL H2SO4  pekat dan 1g KI, aduk dan simpan ditempat gelap selama 6 menit.
3)      Titar Iod yang dibebaskan dengan menggunakan larutan Tio sulfat samapi warna kuning muda.
4)      Tambahkan larutan indicator amilum/kanji lanjutkan titrasi sampai warna biru tepat hilang.
5)      Hitung normalitas larutan Na2S2O3 dengan rumus sebagai berikut:

N Na2S2O3 = N2 x V2
                        V1
           
Dengan pengertian:
            V1        adalah mL Na2S2O3

                V2        adalah mL K2Cr2O7 yang digunakan
            N2        adalah Normalitas K2Cr2O7

Prosedur penetapan kadar oksigen terlarut (DO)
1)      Ambil contoh yang sudah disiapakan.
2)      Tambahkan 1mL MNSO4 dan 1mL alkali iodide azida dengan ujung pipet tepat di atas permukaan larutan.
3)      Tutup segera dan homogenkan hingga terbentuk gumpalan sempurna.
4)      Biarkan gumpalan menegndap 5 menit sampai dengan 10 menit.
5)      Tambahkan 1mL H2SO4 pekat, tutup dan homogenklan hingga endapan larut sempurna.
6)      Pipet 50mL, kemudian masukan ke dalam erlenmeyer 150mL.
7)      Titrasi dengan Na2S2O3 dengan indicator amilum/kanji sampai warna biru tepat hilang.    

        Perhitungan

Oksigen Terlarut (mg O2/L) = V x N x 8000 x F
                                                   50

Dengan pengertian :
V                        adalah mL Na2S2O3;
N                        adalah normalitas Na2S2O3;
F             adalah factor (volume botol dibagi volume botol dikurangi volume pereaksi MnSO4 dan alkali iodide azida).

        Referensi

Badan Standardisasi National. 2004. Air dan air limbah bagian 14: Cara uji oksigen terlarut secara yodometri (modifikasi azida).

9.      Analisa NH3-N (Amonia)
 
       Metode fenat ini digunakan untuk menentukan kadar amonia pada sample air dan air limbah. Amonia bereaksi dengan hipoklorit dan fenol yang dikatalisis oleh natrium nitroprusida membentuk senyawa biru indofenol. Absorbansi indofenol ini sebanding dengan konsentrasi ammonia yang diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 640 nm dengan menggunakan kuvet 1 cm.

         Peralatan dan  Bahan
   Peralatan

10.  Spectrofotometer dengan panjang gelombang  640 nm.
11.  Pipet ukur 10 mL, 25 mL
12.  Pipet volum 1 mL
13.  Labu ukur 100 mL, 1000 mL
14.  Gelas ukur 100 mL
15.  Erlenmeyer 50 mL
16.  Analitycal balance

Bahan

1.      Larutan Fenol (C6H5OH)
Campurkan 11,1 mL fenol cair ( ≥ 89%) dengan etil alkohol 95% sampai volume 100 mL
(Catatan : larutan ini harus disiapkan setiap minggu)

2.      Latutan Natrium Nitroprusida (C5FeN6Na2O) 0,5%
Larutkan 0,5 gram natrium nitroprusida dengan akuades dan encerkan sampai volume 100 mL. Simpan pada botol amber dan dapat disimpan selama 1 bulan.

3.      Larutan Natrium Hipoklorit (NaClO) 5%

4.          Larutan Alkalin Sitrat (C6H5Na3O7)
Larutkan 200 gram trinatrium sitrat dan 10 gram NaOH dengan akuades, kemudian encerkan sampai volume 1000 mL.

5.          Larutan Pengoksidasi
Larutkan 100 ml larutan alkalin sitrat dengan 25 ml natrium hipoklorit.

6.          Larutan Standar Induk  Amonia (1000 mg N/L)
Larutkan 3,819 gram amonium klorida (NH4Cl) (yang telah dikeringkan pada suhu 100oC) dengan akuades, kemudian encerkan sampai dengan volume 1000 mL

7.          Larutan Standar Baku Amonia (10 mg N/L)
Larutan 10 ml standar induk amonia dengan akuades, kemudian encerkan sampai volume 1000 mL.

         Prosedur

    Kalibrasi

Buat larutan standar kerja amonia masing-masing dari larutan standar baku 10 mg N/L  menjadi volume 100 ml dengan  konsentrasi sbb. :

No
Konsentrasi Larutan Standar Kerja(mg/L)
Volume Penambahan Larutan Standar Induk (ml)
1
Blanko
0,0
2
0,1
1,0
  3
0,2
2,0
  4
0,3
3,0
  5
0,5
5,0
Lakukan analisa absorbansi sesuai dengan prosedur 8.2.  Buat kurva kalibrasi antara konsentrasi larutan standar dengan hasil pembacaan absorbansinya.

Yakinkan bahwa  koefesien korelasi (R2) dari kurva kalibrasi adalah  ≥ 0,995   Catat nilai  R2 , slope dan intersep dalam kertas kerja.

 Prosedur Analisa

1.       Pipet 25 mL sample, kemudian masukkan ke dalam erlenmeyer 50 mL
2.       Tambahkan 1 mL larutan fenol, kemudian homogenkan.
3.       Tambahkan 1 mL larutan natrium nitroprusida, kemudian homogenkan
4.       Tambahkan 2,5 mL larutan pengoksidasi, kemudian homogenkan
5.       Tutup Erlenmeyer dengan paraffin film.
6.       Diamkan selama t 1 jam, untuk pembentukan warna.
7.       Kemudian masukkan sample ke dalam kuvet, dan ukur absorbansi pada panjang gelombang 640 nm.

         Perhitungan

Buat kurva standar (kurva kalibrasi) antara konsentrasi larutan standar dengan hasil pembacaan absorbansi nya, sehingga diperoleh persamaan garis regresi linier. 

 Y = A + BX,   

 Dimana ,            Y= absorbansi
               X = konsentrasi
               A = Intersep
               B = Slope

Konsentrasi amonia (mg N/L)  =  Absorbansi – Intersep  ,     dikalikan faktor pengenceran jika ada
                                                              Slope

        Referensi

Standard Methods for Examination of Water and Wastewater, American Public Health Association (APHA) 21st ed. (2005), Method 4500-NH3 F (Phenate Method)

1 komentar:

  1. Terimakasih atas artikelnya, sangat bermanfaat dan mohon maaf ijin untuk di copy sebagai bahan untuk belajar, dan semoga menjadi bagian ilmu dan amalan yang baik bagi Ibu, salam

    BalasHapus